content top
Tampilkan postingan dengan label Adek Alwi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adek Alwi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juni 2011

Menjaga Perut


Cerpen Karya : Adek Alwi



Laila tidur tak bergerak di sofa ruang tengah. Napasnya halus, lunak. Dadanya bak tak beriak. Wajahnya bersih, putih. Atau, pucat? Tidak. Kulit Laila memang putih dan saat tidur mukanya kelihatan semakin bersih.
Aku mendekat, kurapikan kakinya hati-hati. Aku tersenyum lega merasa kehangatan mengalir di sana.
Di luar, hari berlayar menuju petang seperti usia. Bayang pohon memanjang di halaman berlawanan dengan bayang pagi. Suara-suara pembantu senyap di belakang. Telepon bisu di sudut ruang. Di jalan agak jauh di depan rumah kendaraan lalu-lalang, bunyinya menyusup masuk usai berenang meniti daun dan bunga-bunga di halaman. Dibawanya juga harum kenanga ke dalam ruangan.
Kuamati wajah Laila sekali lagi, balik ke kursi, menonton tivi. Tidak ada yang patut. Pisah-cerai artis. Heboh, aneh, bagai pasangan hidup hanya mainan. Atau baju, sepatu, dapat kau ganti kapan mau. Tapi aku terus menonton. Siapa tahu Man ada lagi di tivi. Atau telepon berbunyi. Lalu Armin, Arni, berkabar mengenai abang mereka.
Di saluran lain film kartun, masak-memasak. Ah. Masakan Laila tentu mampu bersaing kalau tak lebih sedap. Tiga puluh delapan tahun seleraku dimanja, asam urat kolesterol pun tak singgah. Cuma umur, terus menjulur; meretas garis dekat ke batas.
”Oh, hebat ini! Sedap. Luar biasa!” Semua teman pun memuji tiap kali kujamu makan di rumah, dulu, sebelum pensiun–dan jumlah sahabat juga masih lengkap.
Macam mana tak hebat luar biasa. Dari kecil Laila suka dan terlatih memasak. Bakatnya turun dari nenek serta ibunya, dia asah tiap hari. ”Pokoknya, masakan Laila itu hm!” puji kakak-kakak perempuan ketika aku disuruh pulang dengan alasan ibu sakit, tahunya mau dijodohkan. Umurku 30 waktu itu. Keluarga cemas aku tidak dapat jodoh di rantau orang, bujang lapuk seumur hidup bak kayu dilahap rayap.
Kepalang basah, kutantang mereka, para kakak. ”Hm, itu apa?”
”Macam mana kau ini. Variatif, inovatif, sedap!”
”Dibanding rumah makan Famili Andalas?”
”Jangan mencemooh kau. Ibu saja takjub, amat berharap Laila jadi menantu.”
Ayah ikut-ikutan. Saat kami berdua, diajaknya aku bicara, istilah dia, ”obrolan antarlelaki”. Bahwa cinta seorang lelaki diawali dari tengah, dari perut, naik ke dada, baru turun ke bawah. Tak sebaliknya: dari dada atau hati dulu macam anak baru baliq. Apalagi dari bagian tubuh bawah.
”Mengapa begitu?” tanyaku.
”Karena perut itu pusat, keseimbangan. Penyakit asalnya dari perut. Pun nafsu, keserakahan. Karena itu, perut harus kita jaga dengan makanan sehat sekaligus sedap. Karena itu lelaki memerlukan perempuan yang campin memasak, cerdas, baik, selain cantik. Ya, seperti ibumu. Juga, Laila.”
”Memang kalau dari atas dulu, dari hati macam anak baru baliq, kenapa?”
“Cinta kau mudah guyah,” ujar ayah. ”Dada itu emosi, perasaan. Dan perasaan rentan terhadap cuaca, mudah berubah.”
”Kalau dari bawah dulu?”
Tiba-tiba ayah melotot. ”Dungunya!” dia bilang. ”Dari tadi aku kias-kias tidak paham. Bejat, tahu. Juga tolol. Kau bakalan terjebak menolak kodrat sebagai manusia, mendekat ke hewan. Kau akan terus mencari, tak puas-puas, bak minum air laut!”
”Oh. Eh, pernah Ayah minum air laut? Maksudku, waktu muda.”
”Mana sudi aku!” Ayah kembali membelalak. ”Kau? Mau? Sudah?”
”Ah, aku tak tahan lelah, Yah,” kubilang.
Muka ayah cerah. ”Makanya, lekas kau belajar kenal dengan Laila!” katanya. Kemudian aku tahu, memang dia paling bersemangat menjodohkan aku dengan Laila.
***
LAILA bergerak. Matanya perlahan terbuka. Dia lihat aku sejenak, lalu beralih melihat tivi. ”Ada lagi?” tanyanya. Suaranya lirih seperti bisik. Matanya redup, hatiku teriris.
”Tidak.” Ya, tambahku tanpa suara. Cukup sekali anak kami, Man, terlihat di tivi diapit pengacara, aparat kepolisian. Jangan lagi tampak, terlebih oleh Laila. Anak, setelah dewasa, beranak pula, memang tidak lagi di bawah-asuh orangtua. Tapi, siapa dapat memupus hubungan anak-orangtua? Siapa mampu mengelak dari derita anak?
”Arman dan Arni?”
”Mereka juga tidak menelepon. Pindah ke kamar, ya. Mereka tak telepon tentu karena tidak ada yang perlu dikabarkan.”
Aku masih ingin di sini.”
”Kalau begitu tidurlah kembali. Dokter menyuruhmu istirahat. Tuhan juga.”
Ia menyenyumiku. Manis-lembut tetap senyum yang dulu. ”Abang tahu Tuhan menyuruhku istirahat,” dia bilang. Matanya berbinar, mengerdipkan harapan.
”Tentu.” Kutinggalkan kursi, aku dekati dia. ”Ia suruh kita lebih dulu menjaga diri, sebelum orang lain. Dia larang kita mencelakai diri.”
Tapi Man bukan orang lain, Abang.”
”Anak kita. Tapi bukan diri kita. Tidurlah.”
Laila menarik napas, telentang lagi. Matanya perlahan terkatup. Bulu matanya lentik dilindung alis lengkung halus. Kulitnya putih, bersih. Tubuhnya masih ramping. Aku kecup keningnya dengan sayang. Serasa baru kemarin kami menjadi pengantin.
Tak lima menit, matanya terbuka pula. ”Aku ingat ayah Abang,” dia bilang.
”Ya, ya. Aku mengerti. Tidurlah kembali. Istirahat.”
Dia sangat percaya aku bisa menjaga perut Abang. Dan, tak sedebu pun yang bukan hak Abang bawa pulang dulu, waktu masih aktif.”
”Ya. Tentu. Lina, istri Man, juga campin memasak sepertimu.”
Tapi, mungkinkah dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya?”
”Kau pun sibuk dulu, mengajar. Kalaupun sibuk tentu dia pesan pembantu apa yang mesti dimasak. Dia ajari mereka memasak, agar yang disantap tidak hanya sedap tetapi juga sehat.”
”Kalau begitu, kenapa Man.”
”Tidur sajalah kembali. Istirahatlah,” kubilang.
”Mataku tak bisa pejam, Abang. Pikiranku tak dapat lelap.”
”Tetapi tubuhmu membutuhkan. Jantungmu. Dokter menyuruhmu istirahat.”
”Ya, Tuhan juga.” Ia senyum. ”Tapi, menurut Abang, apakah Man tidak selalu makan di rumah?”
”Aku pun sesekali makan di lepau dulu. Kau tahu itu. Di kota macam Jakarta, tak mungkin orang makan siang di rumah lalu kembali ke kantor. Kota itu bukan lagi Jakarta tempo dulu, waktu kita tinggal di situ.”
Laila menarik napas pula. Lapat-lapat kudengar suara kendaraan menyusup ke dalam ruang, usai berenang meniti daun dan bunga di halaman. Dia bawa serta harum kenanga yang tumbuh di pekarangan. Dan, hari terus berlayar dekat ke petang; seperti umur, bagai usia. Siapa lebih dulu yang akan tiba di senja, lalu malam, di antara kami berdua?
Aku bangkit dari kursi, mendekati Laila. ”Tidurlah kembali. Istirahat,” kataku membujuk. ”Atau, kusuruh Sinah bikin teh? Hangat-hangat. Mau?”
”Aku hanya ingin dekat Abang. Anak-anak, menantu, dan juga cucu.”
”Aku di dekatmu. Aku selalu bersamamu. Jika sembuh nanti, pekan depan kita tengok mereka ke Jakarta.”
”Mereka dulu anak-anak yang manis. Man, Armin, Arni. Man elok laku, sadar benar jadi sulung. Selalu dia mengalah dan bertanggung jawab kepada adik-adiknya.”
”Dia belum tentu bersalah,” kataku. ”Baru dipanggil. Diperiksa polisi, sebagai saksi. Bukan terdakwa.”
Mata Laila berbinar lagi, mengerdipkan harapan. Dia juga senyum kepadaku. Lembut-manis tetap seperti dulu. ”Abang tahu,” dia bilang, memegang tanganku. ”Itu yang membuatku dulu tidak ragu menerima Abang waktu kita dijodohkan. Ketegaran, dan kesabaran Abang.”
”Bagiku kecantikan dan ke-campin-anmu memasak. Tidurlah sekarang, kau perlu istirahat.”
Perlahan, matanya pejam kembali. Satu, dua, lima, sepuluh menit berlalu.
***
LAILA masih tidur di sofa ruang tengah. Angin tak sampai. Hanya lapat-lapat suara kendaraan, agak jauh di depan, di jalan. Juga harum kenanga. Dan hari tak henti berenang dalam petang. Aku masih duduk di kursi mengamati Laila, sesekali melihat ke tivi. Alangkah lengang petang. Betapa sunyi siang di ujung hari.
Aku dengar suara galau, kudengar bisik-bisik mengimbau. Adakah anak-anak, terutama Man, tahu, bahwa ayahnya, lelaki tua ini tak sesabar dan setegar yang dilihat ibunya? Adakah dia tahu ada yang remuk di dalam, justru di penghujung usia?
Apa kitanya yang kerap ia santap di luar rumah, lalu menjelma nafsu serakah, mengalir dalam darah? Mengapa tak ia jaga lambungnya, perutnya, seperti ayah, juga kakeknya? Seberapa banyak, seberapa lama, seberapa parah gerangan yang ia lahap di luar, sampai-sampai yang berasal dari masakan ibunya di masa kecil, atau dari istrinya kini, seolah tidak berbekas?
Tak lama lagi, seiring tiba senja, stasiun-stasiun tivi akan berlomba menyiarkan berita. Umumnya mengenai korupsi. Apakah anak itu, Man, bakal muncul lagi di sana; seperti kemarin, dan jantung ibunya bermasalah, ayahnya remuk di dalam–debarnya serasa menghancur tulang?
Aku alihkan mata dari tivi, menengok ke arah Laila. Dia masih tidur di sofa, di ruang tengah, tak bergerak. Napasnya halus, lunak. Dadanya bak tak beriak. Mukanya bersih, putih. Atau, pucat? Tidak, tidak. Kulit Laila memang putih, bersih, dan di saat tidur mukanya tampak semakin putih. Namun aku mendekat juga. Kuraba keningnya, lalu merasa lega karena kehangatan mengalir di sana.
Di luar, hari terus berenang menyelesaikan petang. Seperti umur, serupa usia; tidak henti menarik garis menuju batas. Tivi memainkan gambar-gambar. Tik-tok jam di dinding. Sesaat lagi berita-berita. Dadaku kian berdebar. Aku tengok berganti-ganti dari Laila ke tivi, dari tivi ke Laila.
Lalu telepon berdering. Seolah rangkaian gelas-piring dibanting. Aku bangkit, bergegas. Bergegas!
”Halo? Bapak?”
”Ya. Arni? Ya, ini Bapak. Ada apa?”
Tak ada lagi kata. Hanya sedu tertahan. Di sana, di ibu kota negara, di Jakarta. Dan dari pojok ruang kulihat Laila tidur di sofa, tak bergerak. Dadanya bak tak beriak. Mukanya putih-bersih. Atau pucat? Tidak, tidak. Kulit Laila memang bersih-putih dan saat tidur mukanya terlihat makin putih. Tapi aku ingin meraba keningnya, memegang tangannya, menyentuh jarinya. Aku ingin merasa kehangatan tetap mengalir di sana. (saat bercakap denganmu)

Jakarta, Februari, 2010


Jumat, 30 Juli 2010

Mata Sultani


Cerpen Karya : Adek Alwi


Sudah hampir empat puluh tahun mata Sultani menatapku. Tempo-tempo mata kawan masa kecil itu memang tak tampak, seolah sudah bosan lalu raib entah ke mana, namun kemudian muncul lagi dan kembali menatap. Hanya menatap. Tidak sekalipun berkedip, seperti tidak kenal lelah. Padahal tahun demi tahun terus berganti dan kini telah mendekati tahun keempat puluh. Berbagai peristiwa timbun-bertimbun, memurukkan yang lama ke lipatan bawah dan juga menguap ke luar ingatan. Aku dan kawan-kawan pun sudah cerai-berai, tak pernah bersua kecuali dengan dua-tiga kawan yang setia menghuni kota kelahiran kami.
Kepada mereka, bila aku pulang ke kota kami selalu kutanyakan kawan-kawan masa kecil itu, tetapi tak banyak lagi kabar gembira aku peroleh. Kawan-kawan lama kami jarang pulang, bahkan banyak yang tidak pulang sejak merantau-belasan atau puluhan tahun yang silam. “Seperti ada dan tiada, Nius,” jawab Tum menampakkan senyum yang ganjil. “Seperti orang-orang di dalam mimpi.”
“Hanya si Cudik, si Talib dan si Tunik yang acap pulang. Paling tidak dua atau tiga tahun sekali ada mereka pulang,” tambah Amril, yang meneruskan usaha keluarga membuka kedai kopi di simpang jalan dekat pasar. Kalau aku pulang, di kedai kopi itu kami bercakap-cakap mengenang kawan lama serta kota kami yang setelempap tetapi menyimpan sifat-sifat aneh tak terduga. Bahkan mengerikan.
“Si Cudik kini di Lubuk Sikaping,” Biju menerangkan dengan gembira. “Tak lama lagi pensiun. Si Talib di Dumai, sudah bercucu satu. Si Tunik buka lepau nasi di Muaro Bungo. Dua lepau nasinya sekarang, Nius. Satu di Palembang. Hebat dia!”
“Ingat si Bun Kay?” tiba-tiba Tum menyela, setelah mengamati wajah-wajah tak kukenal yang lalu lalang di luar kedai kopi Tum. Waktu terus berjalan dan orang-orang lahir, dewasa atau jadi tua, kendati kota kami tetap saja setelempap.
“Tentu!” kubilang. “Di mana dia?” tanyaku antusias. Bun satu-satunya sahabat Cina kami di waktu kecil. Dia dan keluarganya tergolong aneh, akrab dengan pribumi. Ayah Bun tukang gigi, ibunya berjualan kue mohok alias bakpau. Di kota kami orang Cina tidak mampu bersaing di pasar dengan pedagang pribumi tetapi tidak tertandingi membuat kue, sebagai grosir roti dan permen, lebih-lebih tukang gigi. Mereka pemilik satu-satunya bioskop dan dua studio foto yang ada di kota kami.
“Bun di Medan jadi dokter,” jawab Tum. “Pernah sekali datang waktu mau ke Padang melihat kakaknya. Berubah sekarang, Nius. Kami ajak bermalam tidak mau. Mungkin karena bersama istri dan anak-anaknya. Tapi kami kawani dia melihat bekas rumah orangtuanya.”
Dalam peristiwa dahsyat pertengahan 1960-an rumah orangtua Bun di Kebun Sikolos diobrak-abrik massa, diduduki hingga kini. Mereka bilang ayah Bun menjual gigi dari Peking. Dulu kami sering bermalam di rumah itu. Pagi-pagi terdengar sandal ibu Bun berlosoh-losoh mendekati paviliun tempat kami tidur, mengantar kue mohok hangat-hangat. “Tidak halam, tidak halam! Enak laaa, tak pake babi laaa,” ia sodorkan nampan berisi mohok serta teh manis. Begitu sandalnya berlosoh pergi kue dan teh itu amblas ke perut kami.
“Jelas enak, dan tak pakai babi!” komentar anak-anak yang iri. “Di dalamnya ada kerak gigi!” Kalera! Sultani meradang dan hampir menghadiahi mereka “ketupat Bengkulu”. Tapi kami cegah. “Percuma,” bilang Tum. “Didiamkan berhenti sendiri!”
Bagiku, lebih menyenangkan kalau yang mengantar kue adalah Sui Lin, adik Bun. Pagi-pagi Lin terlihat segar. Pipinya putih kemerahan serupa jambu air. Matanya tak terlalu sipit. Rambut ekor kuda. Suara Lin halus: “Ko Bun! Engko Bun!” Dadaku berdebar mendengar suara itu, juga ketukan jari-jarinya yang mungil di pintu. Kelas 6 SD kurasakan gejolak cinta monyet mengalir deras terhadap Lin, adik kelas kami. Itu pula sebabnya dendamku pada Sultani pernah seperti tidak berujung.
“Bagaimana kabar Sultani? Di mana dia?” tanyaku pada kawan-kawan di kota kelahiran. Mereka menggeleng. “Itulah,” sahut Tum, kembali menampakkan senyum yang ganjil. “Banyak kawan kita serasa ada dan tiada, Nius. Bak orang-orang dalam mimpi. Tidak kecuali Sultani.”
KAWAN masa kecil itu lincah, lucu, pintar di sekolah. Dia kapten sepak bola. Juga pandai menjahit, mencukur, menyogok portir bioskop sehingga kami bisa nonton film 17 tahun ke atas yang dibintangi Sophia Loren. Kami diselundupkan portir ketika lampu bioskop padam. Membungkuk-bungkuk mencari kursi kelas 3 yang kosong, atau menjelepak duduk di lantai, berdebar-debar sekitar dua jam menyaksikan aksi Sophia Loren yang menggairahkan.
Seperti di rumah Bun, kami kerap nginap di rumah Sultani. Ibunya baik seperti ibu Bun. Kalau di rumah Bun kami disuguhi kue mohok, ibu Sultani pagi-pagi menghidangkan nasi goreng serta roti lapis mentega. Suka-suka kami mau makan apa. Minumnya teh hangat, kadang susu. Keluarga itu memang kaya dan terpandang. Ayah Sultani kepala terminal sekaligus ketua organisasi buruh.
“Makan, makan! Tidak halam! Tak pake gigi babi laaa!” Sultani cengar-cengir menyindir, mengajak makan. Bun tertawa-tawa menyikat nasi goreng. Lalu ia sambar roti. Biju dan Tunik juga. Kami berebut. Sultani menarik piring roti ke dalam sarung, mencangkunginya seperti buang hajat. Saat dia letakkan ke meja tak seorang pun yang berselera menyentuh kecuali dia.

Tempo-tempo kawan itu memang cingkahak, alias usil plus kurang ajar. Portir bioskop juga dia ulahi. Di antara lipatan uang sogokan dia selipkan duit buntung atau uang zaman Jepang sehingga untuk beberapa waktu kami terpaksa puasa nonton film orang dewasa. Sultani malah tertawa-tawa makan uang haram itu. Dan pernah pula Buya Makruf, guru mengaji kami, terbungkuk-bungkuk keluar tempat wudu bercelana kolor dan dada bugil. Baju, kopiah, serta sarung beliau “terbang; ke halaman masjid. Ulah Sultani!
Suatu kali, ketika mandi-mandi di batang air yang mengalir di kota kami Bun tiba-tiba terpekik. Ada yang menyentak ujung kulupnya dari bawah air. “Ular! Ular!” Bun berteriak panik. Berenang kalang kabut ke tepi. Mukanya pucat serupa mayat. Kepala Sultani menyembul di tengah sungai. Terbahak-bahak seperti hantu air. “Sunat Bun! Potong Bun! Terlalu panjang Bun!”
Saat liburan tiba Bun pun lalu minta disunat. Ayah dan ibunya setuju. “Ayaaa, Bun mau potong bulung bole potong, laaa. Asal Bun tidak nangis kalu sakit laaa.”
“Tidak sakit, Bah!” Sultani meyakinkan bak tukang obat. “Malah, tidak terasa. Babah mau coba? Sret, selesai!”
Ayah Bun terkekeh. Ibunya tersipu. Dan Bun disunat. “Sebetulnya telat Bun. Kelas enam disunat, jadi keras. Mestinya waktu kita kelas tiga,” ujar Sultani saat Bun meringis dan kami mendampingi kawan itu setiap malam. “Tapi tak apa-apa terlambat daripada tidak. Iya kan, Bun?” Bun mengangguk lemah.
Setelah sembuh, dan suatu petang Bun termangu di halaman Masjid Jambatan Basi menanti kami usai mengaji, Sultani berkata: “Sudah Bun, ikut mengaji saja. Biar aku yang ngajar. Sebulan ditanggung fasih, Bun!”
Sultani memang pandai mengaji dan ditunjuk Buya Makruf sebagai guru kecil. Kepandaian itu turun dari ibunya. Ibunya selalu mengaji tiap subuh. Suaranya merdu, tajwid dan kiraahnya elok. Tapi aku merasa, ajakan Sultani pada Bun karena dia ingin mengamangkan rotan di depan kawan itu. Dan sesekali, tentu saja, melecutkan ke kaki-seperti dia lakukan pada kami selaku guru kecil yang cingkahak.
Bukan saja Bun, banyak kawan merasakan ulah Sultani. Aku malah tak sekali. Namun yang membuat dendamku membara ketika semua bulu di kepalaku dia babat. Jangan pula licin tandas bak kelapa, potong pendek bak rambut tentara saja aku bosan. Sudah lama aku dambakan model rambut orang dewasa atau rambut abangku, Rustam. Tetapi, setiap usai dicukur kepalaku tetap mirip tentara atau anak kecil. Padahal selalu kuminta Mak Hasan mencukur seperti yang kuinginkan, dan tukang cukur langganan ayah itu pun ber-hm-hm sambil mendorong kepalaku kian kemari.
“Cukur sama Sultani!” Biju menyarankan. “Rambutku dia cukur. Tunik juga. Rancak, kan?” Seperti rambut Biju itu yang kuinginkan. Tak licin di sekeliling kepala, tetap ditumbuhi rambut dua-tiga senti yang melingkar manis rapi di sekitar telinga.

Aku serahkan kepalaku pada Sultani. Mulanya sungguh-sungguh juga dia. Uang yang sedianya diterima Mak Hasan kujanjikan kami bagi dua. “Seperti model rambut Bang Rustam, kan?” Aku mengangguk. Pelan-pelan disentuh Sultani kepalaku. Suara gunting tak berdencing-dencing ganas. Mendesis-desis lunak. Mataku merem melek, tidur-tidur ayam. Tetapi lama-lama kepalaku semakin dingin. Ketika kuraba, sebagian kepalaku sudah terkelupas bak ayam hendak digulai!
“Tak ada jalan lain, terpaksa begitu!” Ditekan Sultani kepalaku dengan ujung telunjuk. “Tadi di sini terlampau pendek, kuratakan. Eh, malah sebelah sini terlampau pendek. Sudahlah, sepekan rambutmu panjang lagi. Bagus juga kau gundul, seperti Yull Bryner kau!”
Sejak hari itu kami tak berteguran. Tepatnya, aku tidak mau bicara atau dekat-dekat dengan manusia cingkahak itu. Dia mendekat, aku menghindar. Atau pergi. Dia cerita begini-begitu aku buang muka. Lupa aku pada sifat baiknya yang setia kawan dan suka memberi. Dendamku laksana sumur tanpa dasar. Lebih-lebih waktu Sui Lin, suatu pagi, tersenyum melihat kepalaku yang plontos bak kelapa ketika aku nginap di rumah Bun. “Kepala Ko Nius kenapa?” Alamak, mati awak rasanya menanggung aib!
“KEPADA kawan-kawan yang tiba dari rantau kami juga bertanya kalau-kalau mereka mendengar di mana Sultani, Nius. Tetapi mereka pun tidak tahu,” kata Amril, melihat aku tak henti menanyakan kawan masa kecil itu tiap pulang ke kota kelahiran.
“Sejak peristiwa itu tak ada yang tahu di mana Sultani dan keluarganya, Nius,” sambung Biju lesu. “Sanak famili ayahnya di kampung juga tidak. Pernah kami tanya ke situ, hasilnya nihil. Berkabar pun mereka tak pernah sejak kejadian itu.”
Tum diam saja mendengarkan sunyi. Dan aku merasa ketika itu Sultani tengah menatapku dengan mata tidak berkedip seperti biasanya.
Sewaktu prahara dahsyat pertengahan 1960-an melanda kota kami, dan orang bergegas lewat bergelombang-gelombang di muka rumah sambil berteriak-teriak, aku menghambur ke jalan. Tidak kuhiraukan imbauan ibu dan ayah. “Jangan ikut! Jangan ikut kau!” Aku terus berjalan di belakang gelombang-gelombang manusia yang riuh. Mereka menuju rumah Sultani, berteriak-teriak. Suara mereka teramat gaduh. Mereka melempar rumah itu dengan batu. Tahi kambing, tahi kuda dan entah dengan apa lagi.
Sejumlah orang menerabas masuk. Menyepak pintu hingga rubuh. Kaca-kaca pecah berderai. Mereka terus berteriak. Buas sekali. Aneh sekali. Seakan-akan bukan warga kota kami yang sehari-harinya tenang dan saling menyapa.

Aku menyeruak di sela-sela orang dewasa. Kusaksikan ayah Sultani diseret. Mukanya berdarah. Lututku menggigil. Ibu Sultani berlari mengejar, meraung-raung. Perempuan itu terjerembap di halaman. Kakak perempuan Sultani mendekapnya erat-erat. Dia juga menangis. Sultani juga. Menangis, tegak kaku di ambang pintu. Lalu ia terpana ketika matanya bersirobok dengan mataku, melihat aku di tengah kerumunan.
Orang-orang masih berteriak. Menyeret serta mengarak ayah Sultani entah ke mana. Bergelombang-gelombang manusia. Tanganku dicekal, diseret abangku pulang. “Mulai kurang ajar ya, tak mendengar orangtua!” Cudik bilang mereka membawanya ke Singgalang Kariang. Menghabisinya. Membuang mayat orang tua itu ke Batang Anai. “Seperti mencampakkan bangkai anjing!” cerita Cudik.
“Bagaimana kau tahu? Ikut kau ke situ?” kami tanyai Cudik ramai-ramai.
“Semua orang bilang begitu. Kalian tidak tahu? Mereka menghabisinya petang itu juga!” Cudik berkeras. “Dan, kemarin pagi, ada yang menemukan sepasang mata di Batang Anai waktu menjala ikan. Hanya mata saja, dua buah. Tubuhnya tidak ada!”
Kami bertatapan. Diam-diam terbayang olehku mata Sultani, yang menatapku tanpa berkedip. Bahkan sampai kini, seolah-olah tidak pernah lelah, walaupun tahun demi tahun berlalu menghanyutkan zaman dan usia ke muara.*

Jakarta, 2 April 2005

Minggu, 20 Juni 2010

Lampu Ibu

Cerpen Karya : Adek Alwi


Akhirnya bunda datang juga ke Jakarta, didampingi seorang cucu. Kami tidak bisa lagi menutup mata serta telinga beliau. Kasus dan sakitnya abangku, Palinggam, telah disiarkan koran dan televisi. Tak dapat lagi ditutup-tutupi dari bunda. “Antar aku dulu menengok abangmu,” ujar beliau saat kujemput di SoekarnoHatta. “Besok-besok aku menginap di rumah si Nina.” Ia selalu menyebut rumah anak lelakinya dengan nama menantu, dan memanggil anak-anak kami “cucuku”. “Nina dan cucu-cucuku sehat?”
“Sehat,” kubilang. “Baiknya Bunda istirahat dulu. Nanti sore kuantar….”
“Tak penat aku!” tukasnya keheng, keras kepala. “Terus sajalah.”
Aku lalu diam dan terus menyetir. Kapan pula dia merasa penat? Meski umur 80 dan tubuh makin ciut, stamina dan kegesitannya seolah tak berubah. Masih keliling ke berbagai kota bahkan pulau; melihat anak, cucu, dan cicit. Masih pasang mata dan telinga baik-baik, mengikuti perkembangan mereka. Di hari baik bulan baik bagi yang bersangkutan (ulang tahun, naik kelas, tamat kuliah, naik jabatan), melayang suratnya dengan tulisan halus-tebal model masa lalu. Isinya ucapan selamat, doa, harapan, juga nasihat. Tempo-tempo, jika ia tahu, terlibat pula dia menyelesaikan beragam masalah.
Makanya, kadang kubayangkan urat saraf bunda lebih rimbun dan juga lebih canggih dari kami, tujuh anaknya, yang semua sarjana bahkan dua doktor pula. Urat-urat saraf itu tak henti berdenyut, seperti jantung kita, atau kedap-kedip serupa kabel di pusat telepon. Tiap denyut adalah pantauan sekaligus hubungan dengan anak, cucu, dan cicit yang makin banyak. Dengan masalah yang juga tambah banyak. Justru itu, telah lama kami hindarkan kabar buruk dari beliau, menutup-nutupinya, karena belum siap melihat denyut itu tiba-tiba terhenti. Namun abangku, Palinggam….
Aku menarik napas, sambil terus melaju di jalan tol. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku itu nanti? Tanpa sadar aku menggeleng, tidak berani membayangkan. Dan saat kulirik ke samping, mata bunda terpejam. Tapi, pasti beliau tidak tidur. Merenung? Berpikir-pikir? Lewat kaca spion, kulihat keponakanku di jok belakang. Senyam-senyum, manggut-manggut, agaknya melantunkan nyanyian riang dalam hati, laiknya anak muda.
“Libur kau, Man?” tanyaku mengalihkan pikiran yang melayang saja ke mana-mana.
Ia tergeragap. “Oh. Ya. Libur, Om. Seminggu!”
“Kuliahmu lancar?”
“Lancar.” Ia cengar-cengir. Tahun lalu, seminggu ia menginap di kantor polisi. Seluruh keluarga heboh, panik. Di kantong celana kawannya ditemukan polisi ekstasi. Mereka semobil, berempat. Semuanya digaruk. Bunda tentu tidak diberi tahu. “Sudah dua hari tidak kulihat cucuku, si Herman. Ke mana dia?” tanya beliau suatu pagi.
“Naik gunung,” jawab Kak Leila. “Diajak kawan-kawannya.”
“Cuaca buruk, kau biarkan anak naik gunung?”
“Ala, tak apa-apa Bunda,” adikku Rosa menyahut. Maksudnya membantu Kak Leila. “Biasa itu, anak laki-laki.”
“Eh, sejak kapan alam berubah hanya memperdaya perempuan?” ujar bunda.
Rosa langsung diam, ingat suami yang jarang pulang. Kak Leila berpura sibuk. Dan saat Herman pulang, nenek yang risau itu memanggilnya, berucap lunak, “Elok-elok kau jalani umur muda Herman. Pandai-pandai mencari kawan. Kawan yang baik, Nak, tak mengundang datangnya mudarat. Lihat, kurusnya engkau. Pucat pula, serupa mayat!” Herman kabarnya menangis, ingat pengalaman bermalam di kantor polisi.
Mata bunda kulihat sudah terbuka lagi, menatap aspal jalanan yang berpendar disinari matahari pagi. Dan kendaraan-kendaraan yang berkilau seliweran di jalan tol. Kami sudah di Jelambar, tak lama lagi Grogol. Lalu Slipi.
“Kurang dingin AC-nya Bunda?”
“Cukup.” Dan diam lagi, memandang jalanan.
Apa gerangan yang terlintas dalam pikirannya? Anak cucu yang tak membawa kabar baik, pada usia senja? Merasa gagal, sebab sendiri saja membesarkan kami? Ah. Betapa ingin kusampaikan bahwa dia ibu yang perkasa, tangguh, dan berhasil. Tujuh anak yang masih sekolah saat suami wafat telah ia bekali, disekolahkan hingga tinggi, dengan uang hasil pensiun serta kedai rempah. Agar mereka jadi manusia. Masalah kami hari ini dengan begitu tak perlu lagi menjadi beban beliau. Pun ulah cucu, anak-anak kami. Atau, baginya tugas ibu tamat seiring perginya hayat dari badan? Sebab di situ beda ibu manusia dengan induk ayam dan kucing, seperti pernah dia ucapkan?
“Bagaimana abangmu sekarang?” Bunda melepas pandang dari jalanan.
“Baik saja. Tak apa-apa,” kubilang.
“Masuk rumah sakit, dituduh korupsi, kau bilang tak apa-apa?” suaranya bagai berasal dari tempat yang jauh. “Apa maksudmu?”
“Maksudku, o, pulang dari rumah sakit.” Tiba-tiba aku jadi gugup. Dan bunda menyergap pula, “Sudah pulang abangmu dari rumah sakit? Pura-pura sakit saja dia, seperti orang-orang itu?”
Aku makin gugup. Ingin kencing. Dalam hati kembali kumaki-maki abangku, Palinggam. Dan bunda tetap menoleh, menanti jawaban. Syukur, HP-ku lalu berbunyi. Dari istriku. “Sudah, sudah,” kubilang. “Lagi di jalan. Bunda? Sehat. O, bicara sendiri saja.” Kusodorkan HP ke bunda. “Nina, Bunda. Mau bicara.” Mudah-mudahan lama, tambahku tanpa suara. Obrolan panjang. Biar dia lupa bertanya.
Lalu, suara bunda: “Nina? O, sehat Nak. Alhamdulillah. Ini, masih kuat aku ke Jakarta. Kalian bagaimana? Syukurlah. Mana cucu-cucuku? Oh. Kau sudah di kantor! Bawa mereka nanti ke rumah kakakmu Andamsari. Ya? Besok-besok, Nak. Aku lihat abang kalian itu dulu….”
“Apa kata Nina, Bunda?” Kudului dia bertanya saat pembicaraan itu berakhir.
“Biasalah,” ia bilang. “Tanya kesehatanku. Eh, sibuk benar kudengar istrimu.”
“Nina manajer pemasaran, Bunda.”
“Dan kau sibuk pula. Sering ke luar kota. Ke luar negeri juga. Terpikir olehku, Nak, masih punya waktu kalian buat cucu-cucuku?”
Aku tertegun. Kemudian tertawa. Namun boleh jadi berlebihan, karena bunda lantas bertanya, “Mengapa kau ketawa?”
“Tentu punya waktu,” kataku. “Buktinya aku kini tak ke mana-mana, Bunda.”
“Bukan hanya karena hendak menjemputku?”
Aku menggeleng. “Syukurlah,” ujarnya. “Aku cuma khawatir. Cucuku, si Aya, sudah gadis bukan? Sudah SMP. Jangan pula dia alami seperti keponakanmu, Aida.”
Aku diam kembali. Anak gadis kakakku, Aida, sekali waktu lenyap dari rumah mereka di Batam. Kakak dan abang iparku kalang kabut. Mereka tahu sehari setelah kejadian, pulang dari Singapura. Dicari serta ditanya ke mana-mana, Aida tak jumpa. Semua saudara dihubungi, termasuk Kak Meinar di Medan dan kami di Jakarta. Aida, siswi SMU kelas dua itu, ditemukan adikku Rafli di pantai Padang, bersama pacarnya. Syukur dua remaja itu sungguh sekadar berjalan-jalan. Tapi, bunda yang tadinya tidak tahu curiga melihat semua orang sibuk kasak-kusuk. “Jangan kalian berahasia lagi. Ceritakan apa yang terjadi!” katanya meradang.
Ketika kejadian itu diceritakan setelah diedit dibagusi, alis bunda tetap bertaut. “Kakak-kakak kalian itu yang salah jalan!” ujarnya keras. “Sibuk terus. Harta meruah, tak juga puas. Anak dibiarkan tumbuh sendiri. Tahu kalian, hah, anak ayam saja tidak seburuk itu nasibnya!”
Kami sudah tiba di Semanggi. Aku berbelok, meluncur mulus ke Kebayoran, bebas dari sesak kendaraan yang padat-merayap ke arah Thamrin-Kota. Dan, rumah abangku sepi saja di luar. Pagar maupun gerbangnya tertutup, seperti biasanya. Tetapi di halaman dalam terlihat sejumlah orang. Termasuk polisi, tanpa seragam. Mungkin berjaga-jaga dari demonstran, atau khawatir abangku raib tak ketahuan rimbanya.
Aku terus melaju ke sayap kanan, berhenti di tempat parkir khusus keluarga. Kakak iparku, Andamsari, sudah menanti di teras. Lalu ia mendekat. Memeluk bunda, menangis tersedu. Pembantu bergegas mengangkut bawaan bunda. Aku tergopoh ke toilet, melepas urine yang hendak meledak. Dan HP-ku kembali bernyanyi. Nina lagi. “Sudah sampai belum?”
“Sudah, sudah.”
“Bagaimana bunda? Bang Palinggam, Kak Andam?” tanyanya antusias.
“Belum tahu. Aku di kakus, kencing.”
“Dasar!”
“Tapi kayaknya tidak apa-apa. Bunda sekarang tampaknya banyak diam. Nanti saja aku kabari.”
Mereka duduk bertiga di ruang keluarga. Acara bertangisan agaknya telah usai sewaktu aku mendekat ke ruangan itu. Suara Bang Palinggam terdengar pelan, sayu, seperti minta dimaafkan. “Namun hingga detik ini, Bunda, aku tetap bersih. Terkutuk aku bila mendustai Bunda,” dia bilang.
“Kalau begitu, mengapa kau mengelak diperiksa, Nak? Kenapa berpura sakit? Mengapa tidak kau beberkan saja semuanya?”
“Tidak sesederhana itu, Bunda.”
“Di mana rumitnya?”
Tidak terdengar suara. Aku muncul. Abangku melirik. Menarik napas, melihat bunda lagi. Mukanya kuyu. Loyo. “Aku punya atasan, Bunda,” ujarnya bak mengadu. Suaranya makin lunak, hampir menyerupai bisik. “Aku punya kawan. Aku juga kader partai.…”
Bunda diam. Juga aku serta Kak Andam. Dan lapat-lapat kudengar suara sunyi merayap, entah dibawa udara dari bumi yang mana.
“Tak paham aku soal-soal begitu, Palinggam,” sahut bunda kemudian. “Tetapi bagiku, Nak, yang benar harus disampaikan sekalipun pahit. Kalaupun akibatnya kau diberhentikan bekerja, dipecat partaimu, bagiku itu lebih baik daripada kau berkhianat pada kebenaran, pada hatimu sendiri. Juga kepada Tuhan. Dan negeri ini, yang sedikit banyak ikut dibela ayahmu dari penjajah.”
Bang Palinggam terpana menatap bunda. Matanya perlahan berkaca-kaca. Dia menunduk. Mengangkat muka lagi, memandang bunda. Rasanya, aku tahu sekarang dari mana sunyi itu berasal.
“Kalian sekarang memang bukan lagi anakku yang dulu.” Bunda mengedarkan senyum, juga kepadaku. “Apalagi kau, Palinggam, kini sudah bercucu pula. Namun takdir seorang ibu, Nak, selalu terdorong menyalakan lampu hingga akhir hayatnya.”
Sampai di situ mataku terasa jadi panas. Mata Bang Palinggam kian berkaca-kaca. Dan aku merasa, itu isyarat dari abangku; bagai kelap-kelip mercu suar di malam gulita penuh badai.

Jakarta, 22 November 2006

Kamis, 10 Juni 2010

Kalau Lelaki Itu Pulang…


Cerpen Karya : Adek Alwi


Jika lelaki itu pulang ke kota kami, tidak akan dilihatnya lagi kakak duduk termenung di muka jendela, memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. Paman Jafar telah membawa kakak ke Pakanbaru bulan lalu dan ibu melepasnya dengan lega berurai air mata. ”Elok-elok di sana,” pesan ibu. ”Paman dan bibi akan menjagamu. Kau akan dimasukkan kerja. Engkau akan mengajar lagi nanti, Nak. Kau senang dapat mengajar lagi, bukan?”
Kakak diam saja. Hanya memandang. Lurus. Kosong, jauh. Lebih-lebih kalau duduk depan jendela. Angin kadang memburai-burai rambutnya sampai masai, namun kakak bergeming. Matanya terus menerawang ke cakrawala. Wajahnya tambah putih, kian lesi. Tidak jarang air matanya merambat sepanjang pipi. ”Kakak! Kakak!” adik-adik mengimbau, berlari mendekati, memeluk, serta menarik-narik tangannya. Kakak tak hirau.
Tetapi ibu terus bicara. Ibu bilang kami juga harus sering bicara dengan kakak, menyeru namanya. ”Tapi kakak diam saja,” kata adik-adik. ”Seperti tak mendengar.”
”Kakak mendengar,” ujar ibu. ”Dia sayang sekali kepada kalian.”
”Mengapa kakak tidak menyahut?” adik terkecil bertanya kepada Kak Lela.
”Kakak sedang malas bicara,” jawab Kak Lela. ”Ajaklah terus berkata-kata.”
”Malas bicara, seperti kalau aku ngambek?”
”Ya. Begitu.”

Sambil lambat-lambat menyisir rambut kakak yang sepinggang ibu berucap, ”Ai, ai, harum dan bagus sekali rambutmu, Mariani. Ikal. Legam. Ah, tidak elok kita terus mengenang yang sudah-sudah sampai rambut tak terurus. Itu, paman dan bibimu tiba, Nak. Salamilah paman dan bibimu.”
Kakak tetap tidak beringsut. Sudah lama kakak serupa patung hidup. Sejak dia tidak jadi mengajar, disusul perginya lelaki itu sembari mengembalikan cincin belah-rotan, tanda pertunangan—tak lama sesudah ayah ditangkap kemudian lenyap entah di mana dan di tangan siapa.
Orang terlalu banyak saat itu mengurung rumah. Membawa ayah. Seolah-olah beliau orang penting, padahal hanya masinis kereta api. Bukan kepala stasiun. Apalagi pengurus ataupun ketua organisasi buruh DKA. Sedang kami hanya bisa memandang, bertangisan. ”Ayaaah! Ayaaah!” kakak meraung-raung mengimbau, tetapi ayah tidak terjangkau. Raib dalam kerumunan manusia yang gemuruh. Paman Jafar yang pulang setelah kejadian itu juga mencari, namun ayah tetap tidak dapat dicari. Sampai kini.
”Baru pekan lalu kuterima surat Kakak,” kata Paman Jafar seperti minta maaf. ”Payah hubungan pos sekarang. Lambat. Aku tidak dapat pula cepat-cepat berangkat, izin dulu ke komandan.”
”Jalan pun buruk, Kak. Berlubang-lubang,” istri paman menambahkan.
”Paham aku itu,” balas ibu mengangguk, lalu menoleh kepada kakak. ”Begitu keadaannya, lihatlah.”
Istri Paman Jafar menghampiri kakak. ”Tapi mau dia makan, Kak?”
”Mau. Disuapi.”
”Disuapi?” Bibi senyum memeluk bahu kakak. ”Disuapi engkau Mariani, anak rancak? Eh, kenapa keningnya ini?” Senyum bibi tiba-tiba lenyap.
”Anak-anak nakal itu,” sahut ibu. ”Tapi tidak dalam. Sudah kering sekarang.”
”Terlalu! Tengoklah, Bang!”
Mendengar ibu menjerit melihat darah muncrat di jidat kakak, aku melesat ke luar rumah. Kuburu anak-anak itu. Ada empat orang, sama besar denganku. Langsung kutumbuk hidung anak terdekat. Dia melengking, berdarah-darah. Yang lain siap-siap menyergap. Tapi seorang terjerembab saat lututnya kusepak. Lantas ku-nyanyah pula mukanya hingga lumat. ”Kalian lukai kakakku! Kalian lukai kakakku!”
Orang-orang berhamburan memisahkan. Ibu-ibu menceracau, berteriak-teriak. ”Dasar kurang ajar! Anak tidak tahu diuntung! Tukang berkelahi!”
”Maling mangga! Pembuat onar! Pembawa sial!”
”Mereka yang salah,” kubilang. ”Mereka lempar kakakku dengan batu.”
”Bohong! Dasar pencuri jambu! Anak Gestapu!”
Melihat puting susu perempuan itu terjuntai panjang dan hitam belum dibenahi sehabis menyusui, kubalas berteriak, ”Kau ibu anjing!” Plak! Tubuhku terhuyung ke belakang. Hampir terjengkang. Kepalaku nanar. Kuping mendenging. Seorang lelaki membelalak garang di depanku, mengibaskan tangan bagai mengusir anjing. ”Pergi!”

Bibi merebahkan kepala kakak di dadanya. Membelai-belai rambut dekat luka. ”Masih rajin engkau mengaji, Mariani? Nanti mengaji, ya. Bibi ingin mendengarmu mengaji. Pamanmu juga.” Tidak berjawab. Hanya bulu mata lentik kakak mengerjap-ngerjap. Kemudian air matanya membersit lambat-lambat, bagai rembesan pada panci rusak.
”Lepaskan, Nak. Tumpahkan terus. Menangislah keras-keras!” ujar bibi masih tersenyum. Kakak terisak. Bahunya bergerak-gerak. Adik-adik dan Kak Lela berlarian mendekat. ”Kakak! Kakak!” Mereka rangkul tangan dan tubuh kakak. Kakak tersedu-sedu dalam pelukan bibi.
”Maulud Nabi kemarin sudah tak disuruh orang dia mengaji,” kata ibu seperti berbisik kepada Paman Jafar.
”Buya Nawawi juga tidak menyuruh?”
”Dia tetap. Sengaja buya tua itu kemari. ’Siapa pula anak gadis sefasih engkau mengaji Mariani, ia bilang. Mengajilah saat maulud, sebagai biasa’. Tapi yang muda-muda menolak. Sekarang orang-orang muda berkuasa di surau. Katanya, ingin bersih-lingkungan.”
Paman Jafar melempar pandang ke luar rumah. Sebuah bendi lewat di muka rumah, penumpangnya tak menengok. Paman kembali melihat ibu. ”Sebaiknya Kakak ikut denganku ke Pakanbaru,” dia bilang.
”Bagaimana aku bisa pindah, Jafar,” jawab ibu. ”Rumah ini bagaimana.”
”Jual.”
”Ei, siapa bersedia membeli rumah yang penghuninya dianggap serupa hama!” Ibu tersenyum masam. ”Diberi cuma-cuma atau ingin merampas, banyak, Jafar. Tapi aku yang tak rela!”
Adik ibu itu terdiam. Menyulut rokok. Melihat pula ke luar. Orang-orang tetap lewat di muka rumah, tak menengok. Hanya melirik jip hijau Paman Jafar di halaman.
”Sstt!” ucap bibi perlahan. ”Tidur.” Berbisik pula pada adik-adik, ”Ambil bantal, selimut!” Lalu dia rebahkan kepala kakak hati-hati. Dia luruskan kakinya. Diselimuti.
Saat tidur begitu muka kakak persis bayi. Bersih. Polos. Tak sedikit pun tersisa galau yang mendera: ayah yang lenyap, diputus tunangan, ditolak jadi guru. Padahal, sudah tiga bulan ia mengajar, menanti pengangkatan. Berangkat gembira di pagi hari. Juga siang, sewaktu pulang. Dan terkadang terdengar riang menyanyi di kamar mandi: tak ’kan lari gunung dikejar/ hasrat hati rasa berdebar…. Atau diajaknya adik-adik, aku, Kak Lela berdoa, supaya ayah lekas kembali—entah dari mana.
Lalu, penolakan jadi guru itu tiba suatu hari, serupa badai. Karena status ayah. Dan laki-laki itu muncul di suatu petang, berwajah dingin memulangkan cincin belah-rotan. Juga karena status ayah, meski tak diucapkan. Tetapi, dia maupun keluarganya selalu lewat di depan rumah dengan dagu terangkat pongah, saat kakak mulai terbiasa duduk di muka jendela. Kemudian lelaki itu memang tidak terlihat lagi. Kata orang ia sudah merantau ke Jakarta. Sementara kakak semakin betah di muka jendela, menatap kejauhan tak berbatas.
”Sudah ke mana-mana kuobati,” kata ibu, memandang paman serta bibi penuh harap. ”Belum juga ia berubah. Ada kira-kira dokter di Pakanbaru dapat menangani?”
”Ada!” Paman dan bibi menjawab serempak. ”Tenanglah Kakak,” lanjut bibi. ”Kalau perlu kami bawa ke dokter Caltex. Sesekali kubawa pula ke sekolah. Kawanku membuka sekolah taman kanak-kanak.”
”Kukhawatirkan justru Kakak,” ulang Paman Jafar. ”Ikutlah ke Pakanbaru!”
”Tak perlu khawatir, Jafar,” balas ibu. ”Tidak semua orang jahat atau bernafsu mengucilkan. Lagi pula, bila aku pindah, bagaimana kalau abangmu pulang? Ke mana dia cari kami? Walaupun sudah setahun lebih, belum pupus harapanku abangmu bakal pulang. Paling tidak, tahu keberadaannya. Bagaimana keadaannya. Bila mati di mana berkubur….”
Kakak terus tidur di beranda, tak bergerak-gerak seperti bayi. Napasnya lunak. Kulitnya bersih. Putih. Apa gerangan terlintas di pikirannya sehingga mukanya begitu bersih dan tenang? Apakah dalam tidurnya dia bertemu ayah? Di antara kami kakak paling dekat dengan ayah. Barangkali karena perempuan, putri sulung; tapi tangannya campin pula, terampil-cekatan menangani rumah. Ayah bangga dengannya, berharap kakak jadi guru tamat SGA. Sedangkan Kak Lela diharapkan menjadi perawat, kalau cukup biaya.
”Kakek-nenek kalian guru. Mestinya ayah juga. Tetapi malah juru-api kereta api.” Ayah tertawa suatu ketika. ”Syukur ada kakak kalian, ya?” Kami mengangguk, turut bangga walaupun kakak waktu itu baru kelas satu Sekolah Guru Atas.
”Rencanaku besok kembali,” ucap Paman Jafar. ”Kubawa Mariani sekalian. Tugasku menunggu. Di Pakanbaru juga kacau keadaan.”
Ibu mengangguk-angguk. ”Terpikir olehku, Dik,” ujarnya kemudian. ”Apa tak berbahaya buatmu kalau orang tahu status ayah Mariani?”
”Tidak!” Paman menggeleng keras-keras. ”Komandanku tahu. Dia kawanku, Kak. Anak Ampek Angkek.”
Ibu bernapas lega. Besoknya, kakak dibawa paman dan istrinya. Ibu menangis. Kami juga. Rumah jadi lengang—lengang sekali. Kakak telah pergi. Tidak lagi berada di tengah-tengah kami. Dekat kami. Tapi, kalau laki-laki itu pulang suatu hari, dia pun takkan melihat kakak lagi termenung di depan jendela, memandang gunung ataupun kejauhan tiada batas. Tidak dapat lagi dia atau keluarganya mengangkat dagu dengan pongah bila lewat di muka rumah.
Sekali waktu lelaki itu pasti pulang ke kota kami; tak mungkin tidak. Juga lalu di muka rumah. Tidak ada jalan dapat dia lalui untuk tiba di rumah ibunya, kecuali dia buat jalan sendiri dengan meruntuhkan Bukit Tambun Tulang serta menimbun Lurah Situngka Banang—sesuatu yang amat mustahil. Tetapi, mungkin juga bukan mustahil bila hatinya semakin dingin serupa penguasa-penguasa lalim yang dengan telunjuknya dapat membelok-belokkan apa saja. Termasuk jalan hidup anak manusia, seperti ayah, kakak, atau kami yang kehilangan mereka.

Jakarta, 30 Juli 2005

Minggu, 30 Mei 2010

Warga Kota Kacang Goreng


Cerpen Karya : Adek Alwi


Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. Karena itu, hujan dan kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. Kadang-kadang pagi, siang, petang atau malam hari. Adakalanya juga dari pagi sampai malam, ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu.
Tetapi, karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu, warga kota tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung, atau hujan tiba-tiba menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. Paling-paling orang hanya bergumam, seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha, sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka kembangkan payung, melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul, bercakap-cakap, atau makan kacang goreng.
Betul. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. Meski cuaca cerah, orang-orang di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya, mirip dengan warga kota-kota besar Eropa pada masa lalu. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling melambai dan menyapa. “Hoi, apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!”
Tetapi, jangan pula payung, sedang jas pun (yang dikukuhkan sebagai pakaian resmi sebab konon menimbulkan kesan “lain” bagi yang memakai juga yang melihat), bukan suatu yang istimewa di kota kami. Di mana-mana kau bisa saksikan kaum pria memakai jas. Tidak kecuali para kusir bendi dan tukang kacang goreng yang duduk mencangkung di pojok-pojok jalan dalam kabut, di belakang lampu semprong mereka yang temaram.

Dan, kalau kau tinggal lebih lama di kota kami, akan ahli pula kau menerka usia perkawinan seseorang hanya dengan melihat jas yang dia pakai. Karena, walau kerap membungkus tubuh mereka dengan jas, tapi jarang sekali pria kota kami membuat jas dua kali dalam hidupnya. Kecuali, ya, kecuali lelaki-lelaki gatal atau yang punya istri lagi. Itu pula sebabnya anak- anak muda kota kami lebih suka pakai jaket daripada jas, betapapun elok bahan dan potongan jas itu-untuk menghindarkan salah tafsir.
Hal lain yang bakal membuatmu terheran-heran adalah tukang kacang goreng. Ya, di kota kami hampir tak dikenal orang istilah pedagang, meski aktivitas seseorang berjualan, berniaga. Tukang kerupuk tak selalu berarti orang yang membuat kerupuk, tetapi juga penjual kerupuk. Begitupun tukang sate, tukang serabi, tukang serbat, tukang rokok, tukang emas, dan seterusnya. Tidak jelas mengapa demikian. Aku juga tidak bermaksud membahasnya. Biarlah masalah ini bagian ahli bahasa, juga sosiolog. Aku hanya ingin bercerita tentang mereka, tukang kacang goreng dan penggemar makanan ringan itu.
Sekalipun kota kecil, tukang kacang goreng amat banyak di kota kami, seakan-akan sebagian besar orang terpanggil lahir karena bakat itu. Mereka dapat ditemukan di mana-mana sejak pukul lima petang hingga tengah malam, beberapa waktu setelah bubar bioskop. Mereka mangkal di emper-emper toko, tikungan-tikungan jalan, muka perkantoran-perkantoran, depan asrama tentara dan polisi, di muka rumah sakit, juga di depan gerbang-gerbang jalan menuju surau dan masjid.
Tukang-tukang kacang goreng itu pakai jas, duduk berkelumun sarung atau melekat ke karung goni kacang goreng mereka yang hangat. Lampu-lampu semprong mereka dari jauh mirip bintang-bintang di langit, kedap kedip di balik tirai kabut dan gerimis. Empat atau lima orang di antaranya juga mangkal di muka dua bioskop yang ada di kota kami. Berjajar agak berjauh-jauhan di bawah papan reklame film, tidak saling tertawa layaknya pasangan suami istri dilanda perang dingin.

Tentu ada hubungan erat antara tukang kacang goreng yang sangat banyak itu dan iklim kota kami yang dingin, serta kegemaran orang memakan kacang goreng. Tetapi, apakah itu yang menyebabkan warga kota kami subur-subur, perlu penelitian. Lagi pula, meski lazim satu keluarga punya anak sembilan, sepuluh atau selusin, kota kami tidak pernah sesak karenanya. Anak-anak muda segera berangkat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau bekerja di kota lain dan wesel-wesel mereka berlayangan di awal-awal bulan memenuhi kantor pos. Pada hari raya dan libur-libur panjang, pengirim-pengirim wesel yang rajin itu-yang sebagian di antaranya tumbuh berkat uang kacang goreng-berlayangan ke kampung halaman menjumpai orangtua dan sanak keluarga. Saat-saat itulah mereka tak lepas-lepas dari kacang goreng, tidak ubahnya kekasih-kekasih yang melampiaskan rindu dendam setelah lama berpisah.
Alhasil, tukang kacang goreng tetap banyak di kota kami dan orang tak merasa rendah jadi tukang kacang goreng. Malah bangga. Dalam KTP mereka pun tercantum: pekerjaan, tukang kacang goreng. Dan, penggemar kacang goreng tidak pernah pula berkurang. Bahkan, sesudah lama merantau pun kegemaran itu rupanya tidak hilang. Juga, meski sejumlah anak muda mengalami pengalaman pahit akibat kacang goreng. Bertengkar, bahkan divonis putus oleh si gadis karena kulit ari kacang goreng ikut menyelusup ketika bibir-bibir bertemu pada malam Minggu. Namun, selera menyantap kacang goreng tak kunjung patah. Anak-anak muda itu seolah punya prinsip: pacaran boleh putus, makan kacang goreng jalan terus.
“Habis, memang lain kacang goreng kota kita ini,” komentar para suami saat makan kacang goreng di malam-malam dingin bergerimis. “Ini, lihatlah!” lanjutnya melempar sebuah kacang goreng ke atas meja. Gemuk, panjang, sebesar jempol. “Di tempat lain kecil-kecil kurus kulihat!”
“Memang,” sahut ibu-ibu di kota kami dengan sigap. “Tetapi, tetap belum ada yang sanggup mengalahkan kacang goreng Mak Sanin!”
“Ah, kalau itu, jangan dikata lagi, tiada bandingan!”
“Ya, Mak Sanin adalah maestro kacang goreng!” jawab si istri bersemangat. “Ibarat penyair, dia itu Chairil Anwar atau Amir Hamzah. Ibarat pelukis, dia Affandi. Ibarat pencipta lagu dialah Gesang atau Ismail Marzuki. Ibarat… .
“… perempuan ia adalah engkau seorang!” potong sang suami buru-buru dan si istri pun diam sambil tersenyum-senyum. Menyelusup manja ke pelukan suami.
Mak Sanin satu dari sekian banyak tukang kacang goreng di kota kami. Tokoh ini sangat populer bahkan hingga kini, khususnya di kalangan kaum ibu. Selain karena kualitas kacang gorengnya memang di atas rata-rata, perempuan kota kami menyukai lelaki itu karena dia tidak pernah pakai jas baru. Sudah barang tentu jasnya pun telah lapuk, sebab dipakai setiap malam selama bertahun-tahun, dan warnanya hampir tidak jelas lagi. Tetapi, istrinya pandai dan rajin menyisik sehingga tak kentara benar tambal- tambalan pada jas yang dipakai Mak Sanin.

Agak berbeda dengan orang dewasa, terutama ibu dan kakak-kakak perempuan kami, kami anak- anak justru takut pada Mak Sanin. Mungkin karena tubuhnya tinggi besar, mata rada sipit, dan selalu merah menyala. Kumisnya pun lebat melintang. Juga karena dia “berisi”, punya ilmu. Suatu kali kawan kami si Katan menghajar anaknya hingga babak belur. Anak itu lari pulang menggerung-gerung dan telinga si Katan pun disentil Mak Sanin. Berhari-hari daun telinga kawan kami itu gembung-bengkak kemerah-merahan. Orang juga mengatakan Mak Sanin tidak lagi bermain silat dengan manusia melainkan dengan harimau, tanda ilmunya tinggi. Kedua makhluk itu konon melakukannya malam-malam di pinggir kota usai Mak Sanin berjualan.
Mak Sanin adalah satu-satunya tukang kacang goreng yang tidak berpaut di pangkalan saat berjualan. Jam dagangnya juga berbeda dengan tukang kacang goreng yang lain. Biasanya, dia keluar sesudah magrib atau isya dan akan berakhir kira-kira pukul tiga dini hari atau saat beduk subuh mulai berkumandang di seantero kota dari masjid dan surau.

Begitu keluar rumah di pangkal malam itu orang tidak akan menemukannya di tempat ramai seperti di muka bioskop atau kawasan pasar. Dengan jas itu-itu juga, dan sarung dililit ikat pinggang lebar, dia susuri jalan-jalan kota dengan karung goni berisi kacang goreng di atas kepala. Seolah ringan saja karung goni itu baginya. Tenang- tenang saja dia melangkah, mendatangi calon pembeli. Dialah penemu sistem jemput bola dalam berdagang kacang goreng di kota kami.
Makin malam, kian gencar pula Mak Sanin mengembara menyusuri pelosok-pelosok kota. Juga ke Lubuak Mato Kuciang, Cubadak Bungkuak, Bancah Laweh, dan Bak Aie yang merupakan pinggiran- pinggiran kota kami. Suara serta bunyi tangkelek atau bakiaknya berirama memecah udara: “Tak-tuk-tak, tak-tuk-tak, cang goreeeng…! Tak-tuk-tak, tak-tuk-tak, cang goreeeng…!”

Pada larut malam yang dingin berkabut itu Mak Sanin benar-benar menjelma jadi pelayan tunggal sekaligus penjaga kota kami. Pencuri-pencuri mengurungkan niat mereka yang buruk mendengar suaranya. Orang-orang terbangun, ingin makan kacang goreng. Pasangan-pasangan yang tengah bertengkar terhenti. “Hah, itu Mak Sanin!” ujar si suami. “Beli dulu kacang gorengnya.” Anak-anak muda yang sedang begadang menyongsong kedatangannya dengan girang: “Tiga liter, Mak Sanin!” Dan, sewaktu pesanan mereka ditakar tangan mereka menyelusup ke karung goni, meraup kacang goreng bukan hanya sekali. Tetapi, itu biasa. Semua pembeli melakukannya dan semua tukang kacang goreng membiarkan saja.
Dan, pengantin-pengantin baru, yang memang tak tidur-tidur di tengah malam buta itu, berpandangan dan saling tersenyum mendengar suara Mak Sanin mendekati. Bergegas mereka benahi diri, tegak menanti di ambang pintu. Rambut nyonya muda yang hitam subur tergerai hingga pinggang, harum bercampur peluh, berkibar-kibar ditiup angin malam.
“Mak Sanin!”
“Hoooi!” Tukang kacang goreng itu menghampir ke makhluk elok itu. Dengan jas yang itu-itu juga.
“Seliter saja ah, Mak Sanin.”
“Yo! Eh, cukup seliter?”
“Hi-hi-hi. Cukuplah. Hanya berdua.” Dan, tangan-tangan mungil itu menyusup pula ke karung-goni yang hangat. Kemudian, sambil bercengkrama serta menikmati kacang goreng berdua-dua di larut malam itu, pasangan-pasangan itu menyimak suara Mak Sanin dan bunyi tangkelek-nya yang menjauh. Semakin jauh, lalu sayup-sayup diantarkan angin malam melalui kisi- kisi jendela.
Tetapi, pada suatu malam, ketika ramai-ramai di tahun ’66, cuma sebagian warga kota yang mendengar suara dan bunyi tangkelek itu. Warga yang lain tidak. Besoknya, seluruh warga kota tidak mendengarnya. Padahal, sudah mereka tunggu-tunggu. Dan besoknya lagi, kota kami gempar tak alang kepalang. “Masya Allah,” kata ayah bagai orang kedinginan. “Padahal, tahu benar aku, mata si Sanin itu merah hanya karena menukar siang dengan malam!”
Tukang kacang goreng itu ditemukan orang tergeletak di tepi kali. Ada sebelas bekas bacokan merobek jas tua dan tubuhnya. Tujuh lubang peluru. Karung goninya entah di mana. Tetapi, justru setelah ia tak ada lagi namanya terus jadi buah tutur warga kota kami, bahkan hingga kini. Orang-orang akan mencela tukang kacang goreng bila kacangnya tidak enak atau dia bertingkah. “Huh, tak serupa Mak Sanin!” ujar mereka.
Karena itu, Anda pun akan terheran-heran menemukan banyak tukang kacang goreng di kota kami yang berkata kepadamu: “Ha, kacang enak ini! Tak sembarangan kuali dan pasir buat merendangnya. Belilah. Cobalah. Tidak bakal menyesal. Delapan tahun saya belajar merendang kacang pada Mak Sanin!” Anda melongo heran karena Anda toh tidak kenal siapa Mak Sanin. Dan, mungkin juga tidak mau tahu.

Jakarta, Desember 2004

content top